Tuesday, October 27, 2015
Pejuang Mimpi
kau mulai berlari tiada henti
Menerobos pembatas waktu
Tak peduli sepatu yang mulai menipis
Tergerus aspal untuk kau berlalu
Saat usia semudamu menari diatas pesona dunia
Kau berjuang menembus peradapan
Mencoba memaknai hidup tanpa suka cita
Melalui siang malam penuh peluh semangat
Dan saat seusiamu mulai putus asa
Menyesali hari-hari yang kosong tanpa pencapaian
Meratapi waktu yang tak berputar kembali
Kini kau besar dan hebat oleh caramu sendiri
Lembayung Senja
Bertaburan rintik hujan dibawah teduh senja menaungi pesisir pantai kala itu...
Saat ku tatap langit biru
Ku teringat pada cerita kita yang mangalun indah..
Canda dan tawa senantiasa mengiringi leburan sendu..
Kini...
Bak air laut yang menghapus jejak langkah..
Kau lepas terombang ambing di lautan biru..
Hingga terdampar di pulau yang kau anggap layak singgah..
Entah seperti apa kau rasakan hembusan angin di sisimu..
Sejuk kah atau menyengat???
Tak banyak harapku...
Selain melihat pelangi di pulau tempat kau berada...
Sunday, June 7, 2015
Terang
Terangku,,
Kini
aku mampu tersenyum lebar,
Melihat
warna warni dunia yang dikelilingi langit biru,
Ku
bisa melihat berbagai bentuk dan rupa,
Lingkaran,
segitiga, jajar genjang hingga trapesium,
Bentuk
sederhnana yang lama tak ku dapati,
Hingga
rasa cinta yang lama menyatu,
Kini
tak sempat lagi kutemui,
Terangku,,
Kini
masih terasa gelap,
Terperangkap
dalam malam sendu,
Bergeliat
dalam rindunya temaram,
Hilang
Kau
bagi kayu yang terbakar,
Kau
tampak gagah dan kuat,
Namun
disaat kibaran Api menjilat,
Kau
hanya abu yang melebur dan melayang terbawa angin terbang,
Jika
kau menghilang,
Tunjukan
jejak tilas kakimu saat melangkah,
Jika
tidak berikan tanda pita disetiap tikungan jalan,
Biar
aku bisa menemukanmu kelak,
Jika
kau mundur,
Ijinlah
bahwa kau sudah merasa tak sanggup,
Ijinlah
dengan menampakkan muka manismu,
Jangan
seperti jin yang masuk dalam botolnya setelah masa berlakunya abis
untuku,
Trimakasih
kau sudah datang dan hilang begitu saja,
Setelah
hatiku berbunga dan kini layu dan menghitam seperti kena hama,
Penasaran
Penasaran....
Mungkinkah
itu kamu,
Sang
pengetuk pintu hati,
Pembuat
taman surgawi dalam kalbu,,
Pelatih
pacu kuda yang mendetakkan jantungku hingga berdetak tak seirama
seperti ini,
Mungkinkah
itu kamu,,
Pemilik
istana pendamba asa,
Pengukir
cerita dalam indahnya gelapku,
Penyusun
puzzle hatiku yang terpotong-potong seperti sedia kala,
Mungkinkah
itu kamu,
Yang
memberiku warna dalam hidup,
Yang
meninabobokanku dalam alunan melodi kedewasaanmu,
Yang
menemaniku hingga rambutku memutih bersamamu,,
Mungkinkah
itu kamu,,
Entah
siapapu kamu,
Aku
berharap itu pasti kamu,,
Malam Kelabu
Malam
kelabu

kenapa?
Air
mata ini bercucuran deras,
Tak
kuasa terbendung oleh kantung mata,
Hati
teriris perih seperti terluka oleh pedang,
Tersayat-sayat
seakan sudah mati rasa,
Kenapa?
Berlian
yang lama ku usap hingga kilat,
Kini
kusam karena tanganku tak konsisten untuk merawat,
Bahkan
berlian itu kini menghilang karena jemariku juga,
Aku
sadar hingga kesalahanku ini menerpaku jua,,
Sepi...
Rintik
hujan malam itu meningatkan tentang suatu hal,,
Hal
dimana aku mengerti indahnya ditimang,,
Merindu
sentuhan sang penjejak..
Melindungiku
dari terik dan hujan..
Mengajarkanku
tentang kesederhanaan,,
Kini
rasa itu berubah dengan kata rindu,,
Hening
karena tak terasa lagi derasnya peluh,,
Mendamba
kehangatan yang mulai redup..
Inilah
kenyataan hidup..
Kini
aku berteman dengan sepi sendu..
Saturday, May 30, 2015
-Keras tak berbatas-
Itu kamu...
yang tak henti menderu menuju
Berlari sekencang amukan harimau
Tak hirau meski sekitar menyapa sendu
Itu kamu...
Yang keras seperti karang tengah laut
Terdiam dan tetap kokoh meski keras serbuan air laut
Yang tak merasa takut sendiri di tengah ekstrim ombak menghujam
Itu semua inginmu..
Yang dengan erat kamu genggam..
Sekalipun kamu tuli mendadak oleh jeritan ribuan mulut
Kini apapun cobaan yang menghampirimu..
Tetaplah menjadi karang dan harimau yang terus menerus berjuang..
Karena ini pilihanmu..
30/05/2015
Itu kamu...
yang tak henti menderu menuju
Berlari sekencang amukan harimau
Tak hirau meski sekitar menyapa sendu
Itu kamu...
Yang keras seperti karang tengah laut
Terdiam dan tetap kokoh meski keras serbuan air laut
Yang tak merasa takut sendiri di tengah ekstrim ombak menghujam
Itu semua inginmu..
Yang dengan erat kamu genggam..
Sekalipun kamu tuli mendadak oleh jeritan ribuan mulut
Kini apapun cobaan yang menghampirimu..
Tetaplah menjadi karang dan harimau yang terus menerus berjuang..
Karena ini pilihanmu..
30/05/2015
Thursday, February 19, 2015
Teruntuk Ibukota
Kau bagai inti atom dari secuil tembaga..
Kecil hampir tak terlihat oleh mata elang..
Biarpun ribuan gedung menjulang tinggi nan megah..
Terlampau tinggi kekagumanku hingga mulutku menganga..
Dari ribuan kota..
Kau tampak lebih istimewa..
Dengan segala pesona yang begitu gemerlap..
Keringkihan berdampingan dengan keangkuhan..
Namun kau tampak selaras hidup beriringan..
tak ingin ku lihat air matamu membanjiri kemegahanmu ibukota..
aku tau begitu sulit keragaman warna menyatu dalam satu kota..
Namun karena itulah kau tampak lebih menggoda..
Berbagai suku, ras dan kebangsaan saling bersua..
Menggantungkan asa dan impian di tanah ibukota..
Nada-nada yang bersatu menjadi melodi cinta..
Mengalun indah ditengah kemacetan kendaraan mewah..
Tak ada seorangpun berpangku tangan..
Semua bergegas dari fajar hingga senja tiba..
Berjuang demi masa depan..
Hebatnya kau ibukota,,
disini kau menyediakan semua dari yang tak bisa baca hingga sarjana..
Asal ada satu tekad yang kuat..
Lampu yang begitu gemerlap..
Semangat yang tak pernah padam..
Impian yang selalu maju dan tak pernah sirna..
Jadilah kekuatan agar ibukota semakin bersinar..
Pesona ibu pertiwi yang tak akan memudar..
Majulah kota metropolitan..
Kecil hampir tak terlihat oleh mata elang..
Biarpun ribuan gedung menjulang tinggi nan megah..
Terlampau tinggi kekagumanku hingga mulutku menganga..
Dari ribuan kota..
Kau tampak lebih istimewa..
Dengan segala pesona yang begitu gemerlap..
Keringkihan berdampingan dengan keangkuhan..
Namun kau tampak selaras hidup beriringan..
tak ingin ku lihat air matamu membanjiri kemegahanmu ibukota..
aku tau begitu sulit keragaman warna menyatu dalam satu kota..
Namun karena itulah kau tampak lebih menggoda..
Berbagai suku, ras dan kebangsaan saling bersua..
Menggantungkan asa dan impian di tanah ibukota..
Nada-nada yang bersatu menjadi melodi cinta..
Mengalun indah ditengah kemacetan kendaraan mewah..
Tak ada seorangpun berpangku tangan..
Semua bergegas dari fajar hingga senja tiba..
Berjuang demi masa depan..
Hebatnya kau ibukota,,
disini kau menyediakan semua dari yang tak bisa baca hingga sarjana..
Asal ada satu tekad yang kuat..
Lampu yang begitu gemerlap..
Semangat yang tak pernah padam..
Impian yang selalu maju dan tak pernah sirna..
Jadilah kekuatan agar ibukota semakin bersinar..
Pesona ibu pertiwi yang tak akan memudar..
Majulah kota metropolitan..
Monday, January 26, 2015
Surat Cinta untuk Takdirku
Suatu hari nanti saat ku terbangun melihat wajahmu, hanya satu doaku ijinkan rambutku memutih bersamamu..
Suatu hari aku pasti menyiapkan makanan, menyiapkan baju dan ku rapikan bajumu sebelum bergegas mencari nafkah..
Tenanglah sayang..siapapun kamu, apapun kerjaanmu, darimanakah kamu, tak kubedakan caraku mencintaimu..
Genggamlah selalu jemariku hingga kita mengeriput bersama..
Seberapa lama waktu ini menunggu akan ku persiapkan yang terbaik untuk pujaan hatiku..
Sabarlah sayang..kini kita menuju jalan persimpangan yang akan membawa kita pada satu jalan yang sama..
Saat Tuhan merahasiakanmu untukku..jagalah selalu hatimu.
Meskipun banyak hati yang kau lalui..aku menunggu hingga kau menemukan hatiku.
Dan aku tak pernah permasalahkan itu...karena aku tahu seberapa besar perjuanganmu hingga menemukanku..
Surat ini aku buat untukmu yang kelak menemaniku di depan penghulu..
Saat dua keluarga menjadi satu.
Aku mohon dari sekarang, jangan biarkan hujan deras membanjiri hatiku..jangan biarkan pilu menghiasi wajahku..karena bersamamu aku merasa tenang dan aman.
Aku yakin Tuhan akan mempertemukan kita dengan cara terbaik.
Setelah kau baca surat ini..
Peluklah aku.
26 januari 2015
Sunday, January 25, 2015
Senandung Ibukota
Kau yang sering dicari sebagai lahan rejeki, jika tanahnya tak lagi subur..
Berbondong-bondong menyerbu pusat perekonomian negri..
Membawa segenggam impian dan harapan demi hidup lebih maju..
Gedung-gedung yang menjulang tinggi kian membesarkan hati..
Gudang rupiah yang tersebar di seluruh pojok kotamu..
Kepulan asap yang menyatu terbang membumbung tinggi di langit ibukota..
Ribuan lampu gemerlap di malam kelam..
Kau kota sibuk yang tak mengenal waktu dan lelah..
Peluh yang membasahi raga hingga mentari terbenam..
Kau semakin mempesona..
Biar ribuan ton plastik di sudut sungai..
Ribuan bocah bersenandung dari satu mobil ke mobil lainya..
Sebuah pemandangan yang hanya kutemui di kota ini..
Banyak orang mengecam, Kau kota kejam..
Membiaskan impian dengan kepalsuan, Kau bak Ibu Tiri..
Mengasihi mereka yang pandai mencari muka..
Biar banyak mulut berbicara apapun tentang kau ibukota..
Kau tetap selalu di hati..
Disinilah ku belajar tentang kehidupan..
Mengerti akan perjuangan..
Memahami makna kesabaran.
Meskipun banyak negri entah berantah yang tlah ku singgahi..
Dan itu lebih indah darimu..
Tapi aku selalu ingin kembali di sini.
Oh jakartaku..
Friday, January 16, 2015
Denting
-Denting-
Waktu..
Kenapa kau tak menungguku
Kau hiraukan perasaanku..
Kau campakan asaku..
Saat waktu mampu bicara..
Kau bukan keluargaku..
Kau bukan kawanku..
Kau itu musuhku..
Lalu buat apa aku menunggumu bergegas..
kita bisa menjadi sahabat..
Ikatan kita bisa erat..
Kita tak lagi menjadi musuh..
Dan aku berkenan melangkah bersamamu..
Jika kau menghargaiku..
Jika kau memanfaatkanku..
Dengan langkah pastimu..
Dengan sepenuh ketekunanmu..
Aku akan menjadi berharga bagimu..
Saat lalu..kini..dan nanti..
16/01/2015
Waktu..
Kenapa kau tak menungguku
Kau hiraukan perasaanku..
Kau campakan asaku..
Saat waktu mampu bicara..
Kau bukan keluargaku..
Kau bukan kawanku..
Kau itu musuhku..
Lalu buat apa aku menunggumu bergegas..
kita bisa menjadi sahabat..
Ikatan kita bisa erat..
Kita tak lagi menjadi musuh..
Dan aku berkenan melangkah bersamamu..
Jika kau menghargaiku..
Jika kau memanfaatkanku..
Dengan langkah pastimu..
Dengan sepenuh ketekunanmu..
Aku akan menjadi berharga bagimu..
Saat lalu..kini..dan nanti..
16/01/2015
Monday, January 12, 2015
wanita senja
-Wanita senja-
Kala mentari enggan tenggelam..
Deru ombak menerpa bibir pantai..
Semilir angin merasuk jiwa..
Menusuk hingga menembus kulit yang tipis..
Kakimu melangkah perlahan menyusuri trotoar kota..
Berharap pendiri gedung nan tinggi menghampiri..
Menebus norma yang diganti dengan keangkuhan..
Tak ada sedikitpun dibenaknya terlintas hati nurani..
Hai wanita senja..
Hidupmu bertaruh karena keadaan..
Menahan segala rasa demi kebahagiaan keluarga..
Demi hidup keesokan harinya..
Saat terbit sang fajar..
Wajah sendu terlintas di gurat wajahmu..
kenyataan dan penyesalan membuatmu bersalah..
Namun apa daya saat tak ada yang mampu menghargainya lebih dari itu..
Saat wanita seusiamu sibuk dengan urusan kertas di meja yang berserakan..
Sibuk dengan menu masakan..
Sibuk mengurusi anak..
Kau....sibuk hidup dalam kepalsuan...
Canda
-Canda-
Bibir tipismu mengecap dengan ringan..
Berkisah tentang semua..
Tentang rasa, cinta dan harapan..
Tentang dunia yang beranekaragam..
Aku, kamu dan kita..
Berbagi cerita berbagi rasa..
Menangis dan tertawa..
Tiada hari tanpa suara..
jiwa muda yang begitu semarak..
Duduk bersama bersaut lidah..
Canda yang kian merebak..
Membiaskan wajah cantik berselimut bahagia..
Bibir tipismu mengecap dengan ringan..
Berkisah tentang semua..
Tentang rasa, cinta dan harapan..
Tentang dunia yang beranekaragam..
Aku, kamu dan kita..
Berbagi cerita berbagi rasa..
Menangis dan tertawa..
Tiada hari tanpa suara..
jiwa muda yang begitu semarak..
Duduk bersama bersaut lidah..
Canda yang kian merebak..
Membiaskan wajah cantik berselimut bahagia..
Subscribe to:
Posts (Atom)


.jpg)


